Tugas Bhsa Indo kali ini buat cerpen sumpeh gillleee....asal ngarang, ketik, printout, udah deeeh, Apa namanya ya? (itu kalimat andalannya buk BI hahahah)
Dan tadaaaaaaaaaaa inii cerpen original created me...silahkan disimak...!
Kakek sholihin, ya begitu sapaan akrab seorang petani teladan yang selalu setia berbaur dengan cangkul, dan topi ...kesayangannya. Rumahnya tak jauh dari rumah ku, rumah baruku sejak Ayah ditugaskan bekerja di desa dan dengan rasa terpaksa aku dan keluargaku harus meninggalkan kota dan tinggal di desa yang ku anggap itu tempat yang menyebalkan, membosankan, tidak ada mall, tidak ada J-co, tidak ada cinema, tidak ada jaringan wifi yang sudah ku anggap sahabat sejati sejak tinggal di kota, Ini layaknya mimpi buruk bagiku, Untuk bangun pukul 06.00 saja sangat sulit, aku bahkan tak mau sekolah, aku mau kembali seperti dulu.
Tapi, dengan perlahan aku mencoba beradaptasi dengan habitat yang sangat susah aku percayai ini, awalnya ini sangat susah, benar - benar susah. Tapi itu harus, ini rumahku, ini lingkunganku, sejengkal demi jengkal kuawali hariku dengan senyuman, mencoba mengiringi hariku.
Ada rahasia besar yang aku lupakan dan tak ku rasakan ketika aku mulai tinggal di desa ini, ternyata aku tak menyadari bahwa suasana di desa sangat damai sejuk segar nyaman dan aman bebas dari polusi
Sangat jauh berbeda dengan keadaan di kota yang dipenuhi tenda biru dimana – mana dan asap mobil lalu lalang.
Matahari belum menampakkan sinarnya, kicauan burung belum nyaring terdengar, penduduk desa belum menampilkan fisiknya untuk beraktivitas, tapi tidak untuk seorang kakek tua bertopi ... yang sudah siap menjinjing cangkulnya untuk menggarap sawah, ternyata itu kakek Sholihin, setiap pukul 06.00 ia sudah beranjak dari rumah menuju sawah dengan sandal jepit dekil dan seonggoh nasi bungkus ditangannya.
Keesokan harinya pukul 06.00 (kresssseek kressssssssek) suara telapak kaki terdengar dari semak - semak, aku mengintip dari jendela kamar, lagi – lagi kakek Sholihin yang sudah siap menggarap sawah, Tidak terasa sudah genap satu minggu aku bolos dan tidak mau masuk sekolah.
(Mengapa aku tak mau sekolah? Mengapa aku tetap tak bisa menjalani hidup baru di desa? Mengapa? Mengapa?) itu yang selalu ada dibenakku ketika melihat kegigihan kakek Sholihin yang selalu semangat bekerja sebagai penggarap sawah, ia tak butuh mall, J-co, cinema, juga jaringan wifi, lalu mengapa aku tidak bisa? Tempat – tempat mewah itu hanya buang – buang uang saja, aku hanya butuh buku, polpen, tas, sepatu, seragam, yang lebih aku pentingkan dari hal – hal yang tidak penting itu tanpa perlu membelinya di mall.
Sejak itu aku sadar, aku terlalu mewah, aku terlalu berlebihan dengan hidup di kota. Aku bisa hidup dengan sederhana layaknya kakek Sholihin yang selalu menebar senyum pagi setiap aku bertemu di depan rumah saat aku berangkat sekolah, ya aku bisa hidup sederhana, kini aku bertekat untuk gigih bersekolah dan menjalani hidup di desa, berkat keteladanan beliau, semangatnya tak pernah henti – hentinya aku tiru.
Keren kan?? Yah lumayan laaah, klo comment aq sendiri sih susunan paragraf 1 dngan prgrf yg lain mesti peru di benahi hahahahaa tapi whatever i don’t care mah pokok nha